Puisi

"Poetry has a Soul"

Saturday, February 14, 2009

Sajak Ajie Putra

Bukan bulan juga bukan matahari.
Bersinar terang, saat melintas malam.
Menerawang jauh, tanpa ku tau arah.
Untuk bintang, entah dimana jatuh berada.


BINTANG JATUH..

Melihat, layaknya tak pernah tau.
Menunjuk, ibarat tak pernah berpijak.
Kapan waktu untuk kembali.
Kembali untuk bersinar dan berpijar memberi sebuah arti,
Karena bintang yang hilang.
Akan kembali hadir dengan seribu bintang.





Read more...
Lihat komentar!

Akhir

Ketika aku berdiri…
Menapak kaki, menyempurnakan kesucian diri,
Sesuatu menggores kulitku,
Luka,peri, berdarah hingga akhirnya mati

Keredupan membelenggu
Aku tersungkur dalam pena
Aku terinjak dalam syair
Aku, seperti bodoh tak tahu diri...

Udara seakan membenciku
Angin seolah menghempasku
Hingga aku terperosok
Terus, terus, hingga remuk tulangku.

Awan menjambakku
Dan bumi hanya berdiam diri
Tubuhku tersayat rintik hujan
Tergelincir ke lubuk suram

Sejumlah ranting dan dahan enggan bersimpuh
Dedaunan hanya bersiul padaku
Sedangkan tanah...
Dia menopangku dengan muka bebatuan yang sadis

Hati merintih, menjerit
Jiwaku terenyak, terbang, lepas..
Bibir terbungkam
Kepala, kaki, dan tanganku tak terselamatkan

Dunia...
Selamat tinggal
Selamat jalan kehidupan
Aku akan tenang, tenteram
Semua terbungkam
Kenangan masa lalu teriris
Menipis, hilang, habis
Tiada tersisa...

Hanya terakhir pintaku...
Terimalah aku kembali
Untuk bisa hidup merasakan cinta
Ku mohon... aku menyesal ...

_ tetapi semua telah habis,
yang ada hanya kegelapan
dia telah terbang, menuju satu titik keabadian...
_sairr waa suluukk_

Laras Setianingsih






Read more...
Lihat komentar!

IKRAR CINTA

Oleh Anis Arista

Sebagian orang berkata
Bahwa cinta itu indah
Membuat kita bahagia
Membawa kita ke surga

Tapi sebagian pula berkata
Bahwa cinta itu hina
Dia bikin kita sengasara
Membawa kita ke neraka

Tapi Ikrar cinta mengatakan
Bahwa cinta itu bukan segala-galanya
Tapi hidup tanpa cinta
Seakan-akan tiada artinya

Itulah cinta………
Yang setiap orang pasti merasakan
Merasakan getaran hati
Merasakan getaran jiwa

Ia terkatang membuat kita tenang
Tapi ia juga terkadang membuat kita menjadi gelisah
Murka akan hati yang kalah dan terluka
Akan karena cinta yang di rasa dalam dada.

Berbahagialah orang yang menang dalam cinta
Dan bersabarlah mereka yang kalah dalam cinta
Karena pada dasarnya selalu ada tempat cinta
Di hati setiap manusia, hatimu dan hatinya.
hati kalian semua....

hidup cintaa....







Read more...
Lihat komentar!

MATAHARI CINTA

Aku akan selalu hadir
Menjelma dalam kabut kerinduan
Perisai kelambu kasihmu
Gelarkan keping-keping sutera cintamu
Bak mata air dalam sahara
Tenteramkan api cinta
Aku...
Dalam nestapa kerinduanmu
Matahari Cintaku
Telah gugurkan bunga rindu
Dalam padang nuranimu
Biarkan...
Ia menyemai dalam
Rajutan kehangatan matahari Cintaku


Aziel Az-zahra





Read more...
Lihat komentar!

Jangan Biarkan Ia Kelam

By Maimunah

Sinar matahariterakhir mengajakku berfikir panjang
Kemana harus pergi bernyanyi bila suara-suara telah terbatasi.
Maafkan diriku Kasih, irama laguku tak lagi merdu
karena lidahku teramat kelu untuk meneriakkan'aku sayang kamu.

Masih terasa sinar matahari yang silau,
Ketika kita menikmati senja yang indah
walau hanya bersyair sendu,
Tapi cukup untuk saling bicara.

Kasih...
Jangan biarkan hati menjadi sedih
Hari akan beranjak malam
jangan biarkan ia kelam.


Read more...
Lihat komentar!

Untukmu

sulit tuk ungkapkan setiap kata
yang ingin terbaca
dalam raut dan sapa
kadang senyum ibaratkan luka
walau tampak dalam mata
sejuta bahagia
buatlah hari ini berarti
hargailah setiap orang
yang berada disisimu
karna merekalah
yang akan slalu menyayanigimu

Katrin Rahmania





Read more...
Lihat komentar!

Sajak-sajak Irfan M. Arifin

KEKASIH, PADA MALAM ITU


Malam hampir bosan menunggu kekasih
Kekasih bilang akan datang diantar hujan
Turun di bawah cemara di ujung jalan

Bulan dan bintang sudah selesai berkemas, pulang
Tapi kekasih tak juga datang
....
Kekasih semakin resah, gelisah di atas awan
Sang hujan tak juga berangkat, entah
Padahal bagi kekasih, terlambat adalah patah hati

Hujan bilang dia sudah lelah, sedari tadi bekerja
sendiri
Mengantar anaksepi bertemu ibusunyi
....
Kekasih jadi sedih, menangis perih
Airmata kekasih jatuh perlahan
Setetes kepedihan, bertetes kerinduan
Dan menderas bagai hujan mendera malam
....
Pikir malam hujan sudah datang, tapi dimana kekasih?
Tak bertemu kekasih yang ditunggu, malam merasa
tertipu
Menangis pula sang malam tersedu-sedu, pilu
Dan menderas bagai hujan di mata malam
....
Di sela iring-iringan tangis itu
Kekasih tertidur pulas di atas awan
Malam ketiduran di bawah cemara di ujung jalan
Lalu pagi datang menjelang
Tak lama kemudian, turunlah hujan





PEMULUNG KECIL


Dipungutnya sampah-sampah mimpi
yang berserakan di pinggir jalan
Ditaruhnya di keranjang
bercampur dengan bekas-bekas harapan

Ku tanya dia :
"Akan kau kemanakan mimpi-mimpi itu,
harapan-harapan itu?"

Lantas ia menjawab :
"Akan aku kilokan, biar jadi uang.
Sekarang aku butuh nasi, untuk mengusir lapar
yang menghuni rumahku"

06 Desember 2007


Kekasih Mimpi


(Untuk Dee)

Kau datang bersama malam
Singgah sebentar ke ranjang mimpi
Kau peluk tubuh beku, begitu erat dan hangat
Sejenak kemudian pergi mengiring malam menuju pagi

Ingin kuhapus pagi hingga senja dari lingkaran hari
Supaya malam tak pernah terganti
Dan kau tak akan pernah pergi
Tetap erat dan hangat memelukku disini
Di ranjang mimpi



07 November 2007



Labels:


Read more...
Lihat komentar!

Sajak-sajak Ferry Pratama Notonegoro Supendi

Pemimpin Satu dan Dua..

Pak...bapak
Katanya nomor satu, kok duduk dibelakang??
Katanya pemimpin, kok takut pedagang ??
Katanya kuat sehat, kok kalah sama yang muda??
Katanya cepat siap, kok masalah lama seabad??

Pak..bapak
Hutang dibayar kapan??
Sekolah murah disalah gunakan??
Pengangguran makan, tidur??
Lowongan kerja ikut tidur...tidur
Senyum tertawa sulit, tercekik mahal nasi..menangis oke!!
Banjir datang, gempa datang, tsunami datang
Angin badai dalam perjalanan..
Terus saja mereka-mereka absen ganti-ganti
Senin...banjir hadir pak!!
Selasa...gempa hadir pak!!
Rabu...tsunami hadir juga pak!!
Kamis...angin beliung hadir!!
Jum’at...badai terlambat pak!!
Sabtu, minggu semua libur pak, kami kekeringan pak!!
Susah air dihari libur..

Pak..bapak
Bijaksana sekali banyak janji...
Baik sekali berkata “akan kami atasi”
Terimakasih, terimakasih
Kami kenyang, kenyang..
Makanan kami tetap nasi, bukan janji kebuli

Pak..bapak
Upacara bendera saja dengan kami setiap senin pagi,
Nyanyi bareng, hormat bareng..
Upacara saja terus kita..
“hiduplah Indonesia raya”
“hiduplah Indonesia raya”

pak..bapak
kapan-kapan ajak kami ya..jalan-jalan ke negeri orang
jangan lupa ya!!!

()()()

Dik Sumi

dik sumi...
kapan-kapan kita menikah saja,
tresno di ubun-ubun dik...
jangan dengan yang lain,
dengan aku saja...

dik sumi...
rumah seberang jalan pagar hijau itu punyamu??
Kemarin pagi-pagi tak berpenghuni..
ruas tangan biru bengkak..lama ketuk pintu
apa masih pagi, dik..kau masih tidur??

dik sumi...
apa salah rumah aku??
tanya sebelah rumah, benar ini rumahmu..
madsud hati meminang, ini hari
kemana dik?? Kemana...??

dik sumi...
berjelaga putus asa,
sedari pagi- malam sudah ini.,
kemana dik?? Kemana??

tanya tak terjawab..oleh mu dik..
hingga 5 tahun ini..
kemana dik?? Kemana??
pamit pun kau tak sempat..


()()()

Jangan Keras-Keras,

sabtu pagi, dekat dengan ramai-
rumah seberang jalan- jauh dari damai
mulut berbisik, dengan angin mendesis
jangan keras-keras!!!

mana bisa semua terlihat,
dibelakang pintu- tertutup rapat
malu-malu mau,
mau ko malu-malu
ssttt... jangan keras-keras!!

masih saja didalam rumah seberang jalan,
tengah hari baru saja pamit..
apa ini sampai malam??
Letih, lemah, lemas
Mau kemana lagi??
Sudah.. jangan keras-keras

sudah waktu pun habis,
ternyata dompet tertinggal,
tiada harta, tiada apapun
bagaimana??
Diriku memang nakal- wajar, masih siang
Sudah, jangan keras-keras
pergi saja, tanpa bayar- puas sudah, besok lagi

pergi, tidak keras-keras
kan dari tadi disuruh..
jangan keras-keras..!!!


Labels:


Read more...
Lihat komentar!

Sajak-sajak Lindung Ratwiawan

INGINMU, MIMPI

Apa yang kau arti di kepulan asap, jarum fatamorgana, ruap soda, dan musik yang melecut darah
Melayang, melayang, dan terus melayang sampai menemu entah
Dan denyut jammu terasa lamban, inginmu malam tak segera menemu matahari dan tubuhmu
Seakan berpesiar di taman-taman, kau semakin terkulai, tenggelam
Sungguh tak juga kau pahami, hidup jauh dari mimpi. Di sini duri harus kau rangkai menjadi benang
Doa-doa syukurmu yang panjang. Kehausanlah yang kan menderamu, ketika belenggu
Fatamorgana memborgolmu sepanjang waktu. Dan kunci yang kaucari, lama berkarat di laci hati.

Malang, 2007


AMSAL SEBUAH POHON

Kita hanyalah satu pohon
Yang mengakar pada tanah leluhur
Dan minum dari telaga
Tempat adam sempurnakan luka

Sebagai pohon semua punya makna
Akar, batang, dahan, dan ranting
Juga daun selalu sejalan
Untuk memekarkan bunga-bunga
Dan meranumkan buah

Tak perlu merasa menjadi lebih:
Akulah akar aku lebih berarti
Akulah batang aku lebih berarti
Akulah dahan aku lebih berarti
Akulah ranting aku lebih berarti
Akulah daun aku lebih berarti

Masihkah kita menjadi pohon
Jika kehilangan akar, batang,
Dahan, ranting, dan daun

Sebagai pohon tak perlu berselisih
Wangikan saja bunga-bunga
Dan terperam buah yang manis
Yang melegakan semua yang dahaga
Sebagai pohon tak hanya diam
Lalu kita dirobohkan
Dan dibiarkan berlumut dan berjamur
Tanpa kenangan

Maret 2001



Read more...
Lihat komentar!

Penyesalan

tak ku ingkari perkataan orang
yang mengucapkan penyesalan dtang di akhir
karena saat ini tlah ku rasakan
rasa sesal itu tlah sangat menghantuiku

kurelakan jiwa ku lepas dari tubuhku
jika itu dapat membuat cintamu kembali padaku
ku yakin saat ini kamu telah mnemukan cnta slain ku
hal itu membuatku sakit sekali

dapatkah ku merasakan kasih sayangmu yg dulu
yang pernah membuat diriku sangat sempurna
maafkan diriku...

sekarang kamulah yang ku mau
tiada lagi selain dirimu
yang dapat membuat hidupku berwarna lagi
yang sekarang tlah pudar karena slah q sndiri..

jika ku mampu menyakiti hatiku sendiri
sudah q tncapkan pisau tajam ke hatiku
hati yang tlah sangat menyakitimu


Ozant Znt



Labels: , ,


Read more...
Lihat komentar!

Nusantaraku

Karya : Bernardia Vitri Arumsari

Ku lihat nusantaraku
Di bawah pangkuan ibu pertiwi
Sungai bergemericik jernih
Terbentang dari Sabang sampai Merauke
Di barat nun jauh
Gunung gunung berjajar menjadi satu
Menjulang tinggi di atas awan
Bagai pasukan berbaris
Sampai di seberang
Terasa perbedaan
Terdapat budaya elok
Dari pulau Jawa ku
Berlayarlah daku
Sampai di mutiara hitam
Di sana tersimpan
Bulu Cendrawasih yang indah
Di timur laut
Jaman dulu di suka albino
Baunya menyengat
Sebagai bumbu dapur
Sampailah di Utara
Tempat terakhir ku singgahi
Hijaunya terdapat di mana saja
Tertiup angin bergemerisik
Itulah bumi Indonesia
Kaya budaya, alam, dan kuliner
Semua itu berkat dari Tuhan
Sungguh Nusantara yang kaya





Labels: , ,


Read more...
Lihat komentar!

Keajaiban Tuhan

Hijaunya daun adalah keajaiban Tuhan, dia datang disaat batang sudah bercabang, akar yang menjadi permulaan adalah awal kisah dari daun dan batang disatukan, lalu mereka menghasilkan kembang menawan yang dinantikan.

Ibarat bintang adalah teman setianya bulan, mereka tampakan senyumnya disaat matahari selesai menunaikan tugasnya sepanjang siang.

Atas kehendak Tuhan daun itu tidak selamanya menemani batang, dia bisa begitu saja hilang, entah karena ketidakberdayaannya menahan angin kencang, ataupun karena ada tangan-tangan lain yang sengaja ingin memisahkan, atau bahkan daun itupun sudah tak sanggup lagi memberikan kesejukan bagi batang.

Mungkin kita bukanlah ibarat bulan dan bintang yang selalu terlihat bersamaan, indah dipandang dan memberikan salam dengan sinaran.

Kebersamaan kita adalah ibarat antara daun dan batang, yang hanya sementara dalam kebersamaan dan memimpikan kembang, mungkin diwaktu akan datang akan tiba daun lain yang bisa menumbuhkan kembang, daun melayang dan batangpun hanya diam, mengenang kisah daun yang pernah hinggap dalam kebersamaan.


Lentera Hati





Labels: , ,


Read more...
Lihat komentar!

Mitologi Kertas

Oleh Agit Yogi Subandi

seseorang mengambilku dari tumpukan kertas
di sebuah almari belajar untuk dibawa menuju balkon

ia menulis sesuatu tentang pekerjaanya
dan ia pun lupa membawaku ke dalam

aku dihembus angin
terbang ke sana ke mari dan hinggap sana-sini

setelah lama tinta itu perlahan memudar
entah pergi ditiup angin atau lindap oleh cuaca

kini hanya kertas yang ditinggal kata-kata
menunggu hari-hari sambil mencari jati diri

maka akupun dipungut tukang kacang
dibawanya menuju gerobak pinggir jalan

lama menunggu giliran, akhirnya aku jadi pembungkus kacang
dan dibawa jalan-jalan

ah, kacang rebus yang masih basah dan hangat
merembes ke seluruh tubuhku

dan kini, aku dicampakkan di pinggir jalan
kembali menunggu hari-hari sambil mencari jati diri

sampai pada suatu ketika,
seseorang datang sambil marah-marah
tiba-tiba mengoyak tubuhku…


(2007)






Labels: , ,


Read more...
Lihat komentar!

Tapi Tak Pernah Mati

Tapi Tak Pernah Mati
Sejuta perih telah tertinggal dihatiku
Tak terungkapkan
Tak terpuaskan
Selalu pada akhirnya terukirkan pilu


Beribu asa kupikir telah terlalui
Tlah terkubur
Tapi tak pernah mati
Teringat dan akupun hancur


Selalu indah jika kukenang
Namun selalu perih jika kuresapi


Kupikir saat itu akan selalu ada
Tapi yang tersisa hanya rasa yang abadi dihatiku
Ternyata cinta sejati itu memang ada
Namun hanya menjadi luka dijiwaku


Mimpiku tak tergapai
Namun ku tak menyesali
Tapi tidak cukup hanya disini
Karena aku akan selalu mencintai


Putut Dewangga
www.thedewangga.blogspot.com





Labels: , ,


Read more...
Lihat komentar!

Mama sayang

Bagi dunia mama adalah satu dari sekian banyaknya
Tapi bagi kami mama adalah seluruh dunia....

Mama sayang,

Rasanya Itin masih gak percaya dengan kepergian mama.
Pedihnya hati ini tidak dapat di ceritakan dengan kata-kata. Sakitnya hati ini tidak bisa terhiburkan dengan apapun...

Itin rindu sekali sama mama,
Rindu belaian tangan mama,
Rindu pelukan mama,
Rindu kalimat-kalimat yang selalu mama berikan dikala Itin merasa resah dan bimbang.
Apakah Itin bisa melalui hidup ini tanpa mama? Itin gak tahu, gak mau dan belum mau berpikir sampai kesana. Terkadang Itin alami hidup ini begitu kosong, tapi setelah mama pergi rasanya hidup, hati dan dunia Itin benar-benar kosong sekarang....

Mama tersayang, banyak sekali yang ingin Itin tanyakan tentang hidup ini, tetapi Itin sering berpikir masih selalu ada waktu dan banyak waktu. Mama yang tegar, mama yang tidak pernah sakit, mama yang selalu mengetahui jawaban2 dari begitu banyak pertanyaan....

Itin tahu mama sudah tenang di sisi Tuhan. Begitu besar perjuangan mama selalu untuk kami dan untuk orang lain yang butuh pertolongan mama. Kini memang harus kami relakan mama di bahagiakan oleh Tuhan sebab hidup mama adalah selalu memberi. Memberi kasih sayang, cinta, kepercayan dan pengorbanan....

Materi dan kekayaan hidup yang bisa kita miliki dan raih di dunia ini tidak pernah mama pentingkan sebab itu semua bukan milik kita sendiri. Mama yang selalu bilang, janganlah memperbandingkan diri dengan orang lain, itu hanya bisa memberikan iri hati dan kesombongan. Sebab akan selalu ada orang yang lebih besar dan lebih kecil dari diri kita sendiri. Kita semua ciptaan Tuhan biarpun kamu berkulit putih, hitam atau kuning dan berkebangsaan apapun, semuanya sama di mata Tuhan...

Mama tersayang, terimakasih untuk semuanya.....
Terutama terimakasih atas memberi kepercayaan bahwa "Tuhan itu ada"
Maafkan cita-cita yang tidak tercapai untuk dapat membahagiakan mama di masa tua.....

Di waktu kami mengantar mama ke tempat terakhir cuaca mendung saja. Itin sempat memohon, Tuhan jika engkau benar-benar ada ingin Itin melihat sinar matahari hanya untuk mama saja. Keajaibanmu begitu besar....
Di sore harinya sinar matahari menyinari rumah mama. Ruang tamu, dapur dan kami semua bisa menyaksikan dan merasakan kehangatan sinar besar itu.....

Itin







Labels: ,


Read more...
Lihat komentar!

Sajak-Sajak Dedy Tri Riyadi

Pesta Sepatu


Adakalanya penyair pergi ke pesta. Melupakan sepi
sementara. Mencari kata-kata di udara terbuka.
"Siapa tahu bisa berkenalan dengan puisi yang cantik."
Malam ini, aku percaya diri dengan tubuh yang paling batik.

Sesampai di pesta, kucoba tukarkan kartu derita
dengan segelas tawa. "Jangan hilang sobekannya,
nanti akan diundi di akhir acara," ujar pria bersepatu
yang berdiri di samping pintu. Entah dia penunggu
atau yang ditunggu-tunggu tetamu, karena begitu
sampai, dia yang dituju lebih dahulu.

Belum sempat kuteguk minuman pembuka, aku
kaget setengah mati. "Kenapa sepiku ada juga di sini?"
Mungkin diam-diam dia menyelinap pergi,
sebelum pintu sempat kukunci. Dengan ragu, aku
pun menghampiri.

"Ah, kau diundang juga?" Dia lebih cepat bertanya.
Antara kesal dan malu, aku tersipu. Ketika tertunduk,
baru kusadari : aku salah memakai sepatu!

"Tenang saja, ini pesta sepatu. Kau boleh berkencan
semalam dengan sepatu paling idaman." Entah kenapa,
sepi kurasakan begitu menenangkan.

2007



Penolakan Sepatu




Bangun pagi adalah rekreasi. Setelah merapikan mimpi,
menyelimuti sepi, aku bersiap pergi. Membawa tubuh
berkeliling di sekitar subuh.

"Wah, rupanya kau belum mandi." Sepatu menolak
memakai kaki, aku urung pergi.

2007



Kepada Penyair



Sepi teramat ramah, menyapaku
selalu dengan tawa renyah.
"Hai, apa kabar? Apakah hari-harimu
masih bergulat dengan derita?"

Sejenak dia memainkan lubang
di saku celana, temali hitam sepatuku,
bahkan pada kusut anak rambut.
Sampai akhirnya yang disentuhnya luruh.

Sepi meniadakan aku, hingga
tak bisa kususun hari pada deret usia.

Kini aku pun mulai bermain puzzle
dengan serpihan yang ada :
saku celana, tali sepatu, anak rambut
menjadikannya sebentuk aku.

Sebelum jadi, sepi pun beranjak
pergi. "Selamat berhari jadi,
padahal kukira kau sudah mati."
Kali ini aku tertawa terbahak.
Aku kalah telak!

2007



Menyapih Sepi


Ibu, ajari aku menyapih sepi
sebagaimana sungai sentuhi batu
agar lumut sediakan tanah,
tempat bertumbuh beringin itu

Sebab aku hanya bisa
lesapkan senyap, seperti
asap menuju awan. Untuk
kembali bersama hujan

2007


Dedy Tri Riyadi lahir di Tegal, Jawa Tengah tanggal 16 Oktober 1974.

Mulai serius suka menulis puisi baru pada awal tahun 2006. Karya Puisi

sudah pernahdimuat di Suara Pembaruan, Situs www.tandabaca.com,

www.fordisastra.com, www.puisi.net dan majalah Addiction Edisi Maret 2007.



Labels: ,


Read more...
Lihat komentar!

Sajak-sajak Alex R. Nainggolan

Sajak-sajak Alex R. Nainggolan

Datang Pergi

selalu ada orang-orang yang datang pergi
singgah di kepala
meninggalkan sedikit tanda
catatan alamat, nomor telepon, atau kisah-kisah
sedih yang katanya tak pernah dibagi kepada orang lain
dan hanya padaku mereka bercerita

tapi aku melulu merasa sendiri
kehilangan pada sesuatu yang tak pernah
lengkap aku dekap. dan mereka cuma hadir
sepintas-sepintas. merupa kenangan memar yang mudah pudar

ah, bagaimana bisa kuingat segalanya?
sementara selalu saja orang-orang datang dan pergi
merampas sebagian diriku
lalu lenyap dan menjauh

Jakarta, 26 Januari 2007



Kisah Sedih

barangkali ini sebuah kisah sedih
sebab sekian waktu aku abai pada suara tangis
membiarkan kau besar sendirian
menempuh kalut dalam laut hidup
yang acap dipenuhi dengan kecemasan

dan tahun kembali berganti
merobek segala pesakitan
sementara aku cuma berlalu
sudah jenuh untuk menunggu

maka bersama ransel yang lembap
aku lanjutkan perjalanan
semuanya cuma kisah sedih
yang kelak datang lagi

Jakarta, 26 Januari 2007


Paragraf Kehilangan

aku kehilangan dirimu
waktu membulat, nanar
lalu menggambar dirimu yang dulu
segalanya cuma denyar
yang tak sampai
meski aku telah lunglai
terkulai dengan tubuh gemetar

mestinya kusalami pintu hatimu
sampai benar-benar terbuka
dan aku lesap ke dalamnya
tapi kali ini tak kunjung kutemui
engkau
hanya yang lain,
bagaikan harapan dingin

rasanya terlalu percuma
segala tawa
tinggal cerita

Jakarta, 26 Januari 2007



Omong Kosong

dari sinilah segala bermula
omong kosong
dan kita hanyut di dalamnya
menulis usia atau bilangan tahun
segalanya penuh dengan lamunan
lalu kita menulisnya sebagai sebuah
kisah. berpura bahagia
seolah melulu indah

namun tubuh kita telah penuh
dengan omong kosong
taksempat bertanya
pada siapa bual ini datang lagi?

Jakarta, 2 Februari 2007


Lautan Jakarta

jakarta jadi laut
memungut air hujan
ngalir menggapai tubuh
rumah dan kesedihan
orang-orang bertahan dalam getir
apakah takdir atau mimpi buruk?

lautan jakarta
mimpi-mimpi mengapung
coklat air yang ngalir
tak surut-surut
memasuki lorong-lorong derita

kini semuanya memanggul larat
merapal doa
semoga tak menjadi kaum nuh
yang durhaka

kapan lagi hujan turun?
langit mendung
puluhan ribu tatapan murung

di sisi jakarta
luka kembali pecah

semuanya tenggelam!

Jakarta, 3 Februari 2007



Ketika Air Meninggi

aku menulis puisi
ketika air meninggi
memasuki celah rumah
kerumun orang hanyut
barang-barang terapung
menatap genangan yang berbiak

aku menulis puisi
dengan suara teriakan, "banjir, banjir!"
tak ada yang bisa memaki
cuma mulut-mulut yang terkatur rapat
menahan gemetar dingin di dalam tubuh

Jakarta, 3 Februari 2007



Terjebak Air Banjir
- Hammad Ramadhan

engkau terjebak air banjir
berdiri menunggu dua malam
di ketinggian
tapi langit tak lagi biru
cuma mendung yang menggantung
aroma dingin menebar
matahari mati suri

berapa lama lagi air akan surut?
sebelum segalanya menyisa
bersama tumpukan lelah dan lumpur

engkau terjebak air banjir
ditikam kesunyian
tanpa komunikasi
listrik yang mati
telepon genggam yang mati
hujan mengguyur lagi
entah apa yang sedang kauperbuat sekarang?
sementara nyeri dingin air melulu tumbuh
berenang ke tepian hatimu
menyumbat ingatanku yang panjang padamu

ah, mengapa belum juga ada kabar darimu?

Jakarta, 3 Februari 2007


Nuh

barangkali engkau mesti menjadi nuh
berpura-pura tak sedih
membuat perahu di puncak kota ini
membiarkan hujan turun 40 hari 40 malam
menikmati bangunan yang terendam

tapi tak ada nuh
engkau tak bisa berpura-pura
cuma sedih yang singgah
hinggap ke dalam tubuh
di hadapan kota yang tenggelam

Jakarta, 3 Februari 2007
Palang Jalanan

kini cuma derasnya air
jalanan terpalang
engkau tak bisa pulang
menginap di jalanan
berharap air segera turun
meresap ke dalam tanah
terbawa ke ujung sungai

orang-orang menggelar tikar
duduk di sisi jalan
memandang air tergenang di depan

engkau tak bisa ke mana-mana
hanya berdoa
kapan banjir ini akan surut
dan hujan reda

Jakarta, 3 Februari 2007


Saluran Telepon yang Putus

tak ada lagi percakapan
semua saluran telepon putus
hanya kesunyian meradang
berkecambah di dalam dada


klik, nomor yang anda tuju sedang tidak aktif

sementara hangat matahari
tak ada
semuanya gelap
tanpa cahaya

cuma
bekas genangan air
yang terus bertambah

Jakarta, 3 Februari 2007



Elegi Banjir

sebab kau mampatkan sungai dan selokan
sebagaimana juga pikiran kami
teracuni bertahun-tahun
maka kami tanggung limpahan air ini

tapi jerit demi jerit terus saja menjepit
tak kunjung menghilang
malahan gaungnya terus bergema
di setiap sudut jakarta

lalu kami mengungsi di tenda-tenda
melawan dinginnya udara malam hari
melawan sengitnya getir dingin
tangisan yang melulu terasa panjang

sebab kota ini dibangun dengan curiga
pun orang-orang yang tak peduli
kini air meluap sampai ke hati kami
menggenangi rumah bercampur airmata

Jakarta, 4 Februari 2007



Elegi Jakarta Malam Hari

sewa rumah belum dibayar
awal bulan yang tergulung
kembali aku mengapung
menjadi ikan berkawan dengan coklat air

sepanjang hari yang ditemui melulu keluh
duka yang terus tumbuh tak kunjung sembuh
hanya kesunyian yang meradang terus dikayuh
celaka serupa kaum nuh

Jakarta, 4 Februari 2007



Sketsa Rumah Kontrakan

sehabis istri sakit, si bayi panas
langit-langit rumah seperti terbuka
di sini, cuma ada lenguh pesakitan
panjang dan tak tuntas dibuka

mestinya, aku bisa menikmati
sedikit cahaya senja
dari balik jendela

lembar demi lembar
cuma mengabarkan
ketakutan

puisi yang ada mendadak mati
begitu tergesa membuka pagi

Jakarta, 4 Februari 2007


Bukan Hujan Itu

bukan hujan itu yang menggangguku
melainkan engkau
tengah duduk menatap alir air
keteduhan yang sirat
melahirkan embun baru
yang ingin kuteguk perlahan
biar lenyap rasa hausku

sementara kota kerap menggigil
ketika derasnya hujan memanggil
kitapun acap terserpih
menjauh dari keramaian yang menyerpih

andaikan hujan itu terus ada
mungkin aku akan tenggelam
bersama teduhnya tatapmu

tapi hujan berhenti
kegaduhan kota mendadak sunyi
banjir melebar
menggenang di sudut-sudut kota

Jakarta, 5 Februari 2007


Sepanjang Jalan

sepanjang jalan, sepanjang siang
hanya kudapati wajah-wajah cemas
orang-orang tidur di tenda pengungsian
berharap langit cerah
tapi melulu mendung yang menggulung

sepanjang jalan, sepanjang sedih
hanya kesakitan yang meronta
gagal mengakrabi cuaca

Jakarta, 5 Februari 2007



Tentang Alex R. Nainggolan

Dilahirkan di Jakarta, 16 Januari 1982. Menyelesaikan studi di FE Unila jurusan Manajemen. Tulisan berupa cerpen, puisi, esai, tinjauan buku sempat nyasar di Majalah Sastra Horison, Jurnal Puisi, Kompas, Republika, Suara Pembaruan, Jawa Pos, Seputar Indonesia, Sabili, Annida, Matabaca, Surabaya News, Lampung Post, Sriwijaya Post, Riau Pos, Suara Karya, Bangka Pos, NOVA, On/Off, dll.
Pernah dipercaya sebagai Pemimpin Redaksi di LPM PILAR FE Unila.
Beberapa karyanya juga termuat dalam antologi Ini Sirkus Senyum...(Bumi Manusia, 2002), Elegi Gerimis Pagi (KSI, 2002), Grafitti Imaji (YMS, 2002), Puisi Tak Pernah Pergi (KOMPAS, 2003), Muli (DKL, 2003), Dari Zefir Sampai Puncak Fujiyama (CWI, Depdiknas, 2004), La Runduma (CWI & Menpora RI, 2005).
Beberapa kali memenangkan lomba penulisan artikel, sajak, cerpen, karya ilmiah terakhir di Radar Lampung (Juara III, 2003), Majalah Sagang-Riau (Juara I, 2003), Juara III Lomba Penulisan cerpen se-SumbagSel yang digelar ROIS FE Unila (2004), nominasi Festival Kreativitas Pemuda yang digelar CWI Jakarta(2004 & 2005).
Alamat: Komplek DKI Jalan Bina Serasih I Blok A No. 7 Rt. 005/05 Cengkareng Barat Cengkareng Jakarta Barat 11730
Nomor telepon: 0856-91442740/ (021) 68746933
Nomor rekening:
Bank Mandiri Tanjungkarang
a.n. Alexander Robert
114-0003128645





Read more...
Lihat komentar!

Friday, February 13, 2009

JAM


tik tok tik tok
waktu berjalan, dan aku terdiam..
menunggu buaian angin menyentuh kudukku
menanti sepoinya membelai rambutku

tik tok tik tok
ah, waktu terus berlalu dan aku terpaku
tak peduli lagi aku menatap ke depan, kosong saja
mungkin tak mudah lagi,
impian itu... hanya palsu..semua palsu

tik tok tik tok
uuh, waktu terus berjalan, dan aku bergeming
entah pada apa
aku berpegang
yang jelas, dada ini tak lagi berdetak
sekencang dulu
atau semenggebu dulu..
hanya saja, air mata menetes..
ke pangkuan sang bumi..
hingga mengering..
dan waktu terus saja berjalan...
dan aku tak jua beranjak

Yopina
Old Delhi, 14 feb 2009











Read more...
Lihat komentar!

Wednesday, February 11, 2009

Beberapa Orang

By Hendra G.

Aku lalai,lalai mengikuti sang waktu
mengalun nan air yang mengalir
dedaunan berdesir membisikkan
angin bertiup mendesah lemah
aahh....
kebekuan dan kebisuan hati yang menghantui setiap materi

mengapa aku menangisi kehidupan?
mengapa mereka tertawai kematian?
sejauh mata memandang hati
adakah terdapat sebuah arti?

aku jauh tertinggal dan terasing
aku terdampar di kehampaan
bilakah aku temui sang Ilahi yang menuntun setiap langkahku
ada yang bisa memahami
pribadi yang dapat mengerti dan siapa yang mampu menyelami

keangkuhan diri yang tidak akan pernah rendah hati......
aku akan berdiri di bawah derasnya hujan,karna tidak seorangpun yang tahu aku menangis.....
aku akan berdiri di kegelapan karna tak seorangpun yang akan tahu aku sembunyi.....
beberapa orang tertawa,
beberapa orang menangis







Read more...
Lihat komentar!

Dara

By M. Tasar Karimuddin

Dikeramaian malam tampak bidadari menjelma
Angin berbisik memetik irama seiring
Sang Adam tegak bingung dibawa pesonanya
Seakan awan turun bersujud disekeliling

Katanya malaikat tersipu malu dipersembunyian
Melihat malam ditemani bidadari kayangan
Wajar saja sang cucu berwajah merah-kemerahan
Melihat dara jelita ciptaan Tuhan


Safdarjung Enclave, Delhi
30 Januari 2009
12:56 AM












Read more...
Lihat komentar!

Puisi Yopina G.












Read more...
Lihat komentar!

Puisi Hendra Ginting






Read more...
Lihat komentar!

"write the unknown words"

By Yopina G.

seems absurd, just like a night dreams,
but one dream comes in a nap,
in a twinkling sparkling consciousness,
shades the ego,
fulls of id,
only id,
enjoys the glory..

seems absurd, seems abstract,
seems unknown to me,
but at a time, will unfold,
in a way u say the unknown words,
in a silence,
at an unknown time









Read more...
Lihat komentar!

"Write what you know"

But I do not write of what I know.
I write to find what is unknown,

linger like timid children creeping
from the forest of their familiars

peering at such a wide,wide clearing
no trees in view on the other side

afraid to sleep into sparkle of light
instead they skirt the edge of woods

darkness on left,dazzle of unknown
on their right ---- terrifying,pulling them.

new songs they hum in rhythm with step
begin to fill with wonder words.

what they know grows grand as sky,
just as blue just out of reach.


by Hendra Gtg
Department of English
DU.










Read more...
Lihat komentar!


BLOG MAHASISWA & MASYARAKAT INDONESIA DI INDIA

Abdullah Elwazeen   • A Fatih Syuhud   • Ahmad Qisai    • Aila El Edroos   • Dudi Rahman   • Fadlan Achadan   • Irwansyah Yahya   • Julkifli Marbun   • Khairurrazi    • Lily Mumbai   • Lisa Cochin   • Lukman Nul Hakim   • Mario   • Muhammad Ikhsan    • Mukhlis Zamzami Chaniago   • Nasha Nadeera Cochin   • Purwarno Hadinata   • Putu Widyastuti Rudolf   • Rini Ekayati   • Rizqon Khamami   • Saifullah Hayati Nur   • Tasar Karimuddin   • Tylla Subijantoro   • Uci Mumbai   • YASER AMRI   • Yunita Ramadhana   • Zamhasari Jamil   • Zulfitri   • zulfikar karimuddin  
Links:

Bengkel Puisi  

Blog Directory Indonesia:

angkringan.or.id - Komunitas Weblog Jogjakarta   •Bandung Blog Village. Weblog Community   • Blogbugs   •Blogger Family   •Blog Indonesia   •Bloggerian   •blogzone   • cangkrukan community   •id-GMail   •indodigest   •Indonesian Muslim Blogger   •Kaskus   •Komunitas Blogger Malang   •Merdeka   • PLANET TERASI    •weblogs.or.id  

Powered by Blogger